Minggu, 8 Maret 2026
Login Kirim Tulisan

Tantangan Santri di Era Globalisasi

BAGIKAN:
Tantangan Santri di Era Globalisasi
0
Iklan
Tantangan Santri di Era Globalisasi

DISTRIKBANTENNEWS.COM - Santri adalah sebutan bagi para pelajar atau penghuni pondok pesantren, yang merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia. Santri memiliki peran penting dalam sejarah, budaya, dan politik bangsa Indonesia, terutama dalam mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan inklusif.

Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat, santri menghadapi berbagai tantangan yang menuntut mereka untuk beradaptasi dan berinovasi. Tantangan-tantangan tersebut antara lain adalah:

1. Kesenjangan Digital

Kesenjangan digital adalah ketimpangan akses, keterampilan, dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi antara individu, kelompok, atau wilayah. Kesenjangan digital dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, informasi, dan komunikasi yang diterima oleh santri.

Santri yang tinggal di pondok pesantren, terutama yang berlokasi di daerah pedesaan atau terpencil, mungkin mengalami kesulitan untuk mengakses internet, komputer, atau perangkat digital lainnya. Santri juga mungkin kurang memiliki keterampilan atau literasi digital yang dibutuhkan untuk mengoperasikan, memahami, dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif dan efisien.

Untuk mengatasi kesenjangan digital, santri perlu mendapatkan fasilitas, bantuan, dan pelatihan yang memadai untuk mengakses dan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Santri juga perlu meningkatkan kesadaran, minat, dan motivasi mereka untuk belajar dan mengembangkan keterampilan dan literasi digital mereka.

2. Radikalisme dan Intoleransi

Radikalisme dan intoleransi adalah sikap atau tindakan yang menolak, menentang, atau memusuhi perbedaan pandangan, keyakinan, atau identitas antara individu, kelompok, atau komunitas. Radikalisme dan intoleransi dapat menimbulkan konflik, kekerasan, atau terorisme yang mengancam keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan masyarakat.

Santri yang hidup di lingkungan pondok pesantren, terutama yang bersifat eksklusif atau isolatif, mungkin rentan terhadap pengaruh atau propaganda radikalisme dan intoleransi yang disebarkan melalui media sosial, internet, atau jaringan-jaringan tertentu. Santri juga mungkin kurang memiliki pemahaman, apresiasi, atau dialog yang konstruktif terhadap perbedaan yang ada di masyarakat.

Untuk mengatasi radikalisme dan intoleransi, santri perlu mendapatkan pendidikan, bimbingan, dan pengawasan yang berkualitas untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang moderat, toleran, dan inklusif. Santri juga perlu meningkatkan interaksi, kerjasama, dan partisipasi mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial, kultural, atau kemanusiaan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Iklan
Penulis: Admin 28
Diterbitkan: 1 Februari 2024, 09:08 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Tags

Terkini